Tradisi Perayaan Bau Nyale, Warga Berburu Cacing Laut Di Pantai Seger Mandalika

  • Bagikan

LOMBOK TENGAH – Berburu cacing laut dalam acara Adat Bau Nyale, merupakan tradisi yang dilakukan warga dari berbagai daerah di Lombok Tengah, berburu cacing laut dilakukan warga di kawasan ekonomi khusus pantai Seger Madalika, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Senin dini hari (21/20/2022).

Bersama keluarga dan kerabat, warga mulai berdatangan ke pantai Seger Mandalika dengan menggunakan sepeda motor atau mobil sejak Minggu malam (20/2). Ada juga sebagian dari mereka mendirikan tenda di pinggir pantai dan bukit Seger untuk bermalam menunggu cacing laut muncul sekitar pukul 05.00 WITA, sebelum matahari terbit.

Hujan dengan disertai petir dan angin tidak menyurutkan niat mereka untuk menunggu nyale yang muncul setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan Sasak.

BACA JUGA :  Sandiaga Uno: Desa Wisata Lapasi Halmahera Barat Jadi Daya Tarik Wisatawan

Ketika cacing laut mulai muncul, warga berduyun-duyun turun ke laut sambil membawa peralatan berupa sorok, ember, dan lampu senter untuk menangkap cacing laut atau nyale di sepanjang Pantai Seger Madalika.

Beberapa pemburu nyale tidak lupa untuk mengabadikan momen tersebut dengan mengambil foto dan berswafoto menggunakan kamera maupun telepon genggamnya.

“Alhamdulillah nyale keluar hari ini,” kata salah seorang warga sedang asik bersama keluarganya menangkap Nyale di Pantai Seger Madalika.

Warga yang lain juga mengatakan “Sama seperti hari Sabtu kemarin, Bau Nyalenya tidak banyak keluar kalau ditepi pantai , tetapi kalau mencari ditengah laut seperti warga yang lain banyak mendapatkannya”.

Tradisi warga sekitar dalam adat suku Sasak bahwa Bau Nyale dipercaya merupakan jelmaan dari Putri Raja Madalika dalam Legenda Putri Madalika.

BACA JUGA :  Gala Dinner Golf HUT Ke-65 Kodam IX/Udayana, Ajang Promosi Wisata dan Bakti Sosial

Setelah beberapa tahun, tradisi Bau Nyale kembali digelar di Lombok Tengah, untuk waktu pelaksanaan Bau Nyale telah ditetapkan dalam musyawarah para tokoh adat dan budaya setempat sesuai dengan tanda alam maupun penanggalan suku Sasak.

Pemerintah Kabupaten berharap pelaksanaan tradisi Bau Nyale suku Sasak tersebut, merupakan sinyal yang diharapkan dapat menghidupkan kembali serta mendukung pemulihan ekonomi masyarakat melalui kegiatan usaha di sektor Pariwisata Daerah, yang sempat terpuruk akibat pandemi COVID-19.

Editor: Aly
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *