WOSPAC Hadirkan Solusi ke Piala Dunia dan Masa Depan Sepakbola Indonesia

  • Bagikan

JAKARTA – Pentas Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tim nasional Indonesia masih menjadi penonton. Skuad Garuda- julukan Tim nasional Indonesia- belum berhasil lolos ke putaran final dari Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia sehingga harus absen.

Meski demikian, masyarakat Indonesia tetap antusias menjadi bagian dari sejarah. Sehingga harapan untuk melihat Skuad Garuda berlaga di turnamen sepak bola terbesar tersebut tetap menyala.

WOSPAC (World Sport Academy) Indonesia ikut memberikan solusi nyata supaya Indonesia tidak hanya lagi menjadi penonton melainkan menjadi bagian dari sejarah.

WOSPAC Indonesia meyakini masa depan sepak bola tetap cerah. Ditekankan CEO WOSPAC Indonesia Benhard Sitorus, fondasi tim yang solid dan potensi pemain muda menjadi modal penting untuk kemajuan sepak bola Indonesia. Akademi dan turnamen profesional sebagai fondasi jangka panjang untuk melahirkan bibit-bibit pemain sepak bola berbakat di masa depan.

Dengan perencanaan yang tepat, sinergi dan dukungan penuh dari semua pihak terkait, Timnas Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di level internasional.

Pandangan optimistis tersebut memberikan harapan besar bagi penggemar sepak bola di Tanah Air.

Piala Dunia sebagai ajang tertinggi sepakbola dunia menjadi inspirasi bagi banyak negara untuk membangun sistem pembinaan berkelanjutan. Apalagi Indonesia memiliki potensi besar dari segi demografi, antusiasme masyarakat, dan dukungan pemerintah.

BACA JUGA :  Perdana Digelar! Ribuan Pelari Padati Tangerang Color Run Night 2025 

Benhard menuangkan semua solusi tersebut dalam webinar nasional bertema “Piala Dunia dan Masa Depan Sepakbola Indonesia” yang digagas Lestari Moerdijat selaku Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI) melalui Forum Diskusi Denpasar 12, Edisi ke-280, Rabu (24/6/2026) siang.

Menurut Berhard, bahwa pembinaan usia muda akan menentukan capaian prestasi dan masa depan sepakbola nasional. “WOSPAC hadir bukan untuk mengubah metodologi lokal, melainkan membawa talenta Indonesia langsung ke pusat ekosistem sepak bola terbaik di dunia. WOSPAC menggabungkan pelatihan sepak bola performa tinggi, pendidikan formal internasional serta integrasi pendidikan Tanah Air, dan pembentukan kepribadian (pola berfikir, kepercayaan diri, kebiasaan baru, kemandirian hingga publik speaking),” terangnya.

Selain itu, dilajutkan Benhard, WOSPAC Indonesia memberangkatkan anak usia 13-14 tahun meski di Wospac Barcelona membuka usia 10-24 tahun, usia 13-14 dinilai cukup untuk berkompetisi di Eropa dan mengejar kesempatan home grown player setelah tiga tahun menempa diri di Spanyol.

Mereka akan bertanding di liga resmi supaya menghadapi tekanan intensitas pertandingan dewasa, dan buka sekedar tempat pelatihan jangka pendek. Para pemain akan mendapatkan eksposur karir global, yakni membuka gerbang koneksi langsung ke jaringan pencari bakat, agend, dan klub-klub eropa guna mengubah tekad anak bangsa menjadi profesi nyata.

Dengan mengusung tema “Jembatan Mengantar Mereka Jadi Hebat”, WOSPAC Indonesia merupakan kolaborasi strategis yang memberikan pendampingan untuk memaksimalkan potensi calon atlet muda Indonesia.

BACA JUGA :  Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Ajukan Gugatan Ganti Rugi ke Sejumlah Institusi Negara

WOSPAC membuka banyak jalan dengan pelatihan komprehensif, mempersiapkan pesepakbola muda Indonesia untuk berprestasi di level tinggi dan siap untuk sukses.

“WOSPAC Indonesia menjadi solusi jangka panjang dan melengkapi program PSSI, bermitra dengan PSSI, menggandeng pihak swasta dan semua pihak terkait untuk mengirim dan menempa bakat lokal di akademi elit dunia demi kemandirian sepak bola Indonesia. Diperlukan kolaborasi strategis dalam membangun roadmap pembinaan usia dini berbasis model akademi dunia,” tambahnya.

Saat ini, WOSPAC telah menelurkan pemain binaan seperti pemain Arsenal David Raya, pemain AS Monaco Keita Balde, hingga legenda hidup Barcelona Jordi Alba.

Sepak bola Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang. Dengan adanya akademi sepak bola dan pembinaan pemain muda yang lebih baik seperti WOSPAC, serta dukungan dari berbagai pihak, Indonesia bisa menjadi kekuatan baru di sepak bola Asia.

Diperlukan reformasi dalam sistem manajemen sepak bola, peningkatan kualitas infrastruktur, serta profesionalisme dalam pengelolaan kompetisi agar sepak bola Indonesia bisa bersaing di kancah internasional.

Dengan semangat dan kerja keras, bukan Indonesia bisa tampil di Piala Dunia dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan.

Sebagai catatan, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menargetkan Timnas putra lolos ke Piala Dunia 2034 dan putri pada 2038, sesuai roadmap menuju Indonesia Emas 2045 yang diserahkan kepada FIFA.

BACA JUGA :  Event Piala Dunia U-20 di Indonesia Batal, Anggota Dewan: Catatan Penting bagi Kemenpora dan PSSI

WOSPAC Indonesia berkomitmen membantu mewujudkannya dan tengah mempersiapkan generasi Timnas Indonesia yang siap bersaing di kancah internasional.

Sesuai harapan Erick Thohir yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) serta diamini Presiden Prabowo Subianto, yaitu bisa mulai terwujud pada 2030.

Apalagi hal itu termaktub dalam roadmap yang PSSI serahkan kepada FIFA, menuju Indonesia Emas 2045.

“Diskusi yang sangat menarik dan membangun. Kita jadi optimis bahwa untuk tampil ke Piala Dunia bukan sekadar mimpi melainkan target yang bisa dicapai melalui dedikasi dan konsistensi untuk mewujudkannya,” kata pemandu acara Tantri Moerdopo (Tim Ahli Wakil Ketua MPR RI) memberikan kesimpulannya.

Sebagai catatan, selain Berhard, narasumber lain yang hadir adalah pengamat sepak bola seperti Tommy Suryopratomo, Asep Saputra Direktur Operasional I.League (Kompetisi Liga), serta penanggap Akmal Marhali (Koordinator Save Our Soccer) dan penutup dari Saur Hutabarat (wartawan senior). Senada, mereka memberikan dukungan bagi Timnas Indonesia di semua kelompok usia dan PSSI untuk terus maju dan bebenah, memperbaiki performa, meningkatkan kualitas kompetisi dan pemain, perangkat pertandingan serta pelatih. Selain itu, sepakat membangun fondasi sepak bola yang kuat dimulai dari akademi dan kompetisi usia dini yang berkesinambungan dan profesional.*

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights