Pejuang UMKM Indonesia, Ikhsan Ingratubun Tutup Usia

  • Bagikan
Alm. M. Ikhsan Ingratubun, Ketua Akumindo. (Foto istimewa)

JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) yang merupakan pejuang ekonomi rakyat kecil M. Ikhsan Ingratubun (54) meninggal dunia.

Ikhsan tutup usia di Rumah Sakit Jakarta Medical Center (RS JMC), Selasa pagi, (22/3/2022). Jenazah dikebumikan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur di hari yang sama.

Pria kharismatik jebolan Politeknik Universitas Hasanudin ini semasa hidupnya merupakan pejuang dan penyuara UMKM yang tak kenal lelah menuntut keadilan. Suara kritis Ikhsan sering didengungkan di media arus utama sebagai nara sumber.

Dilansir dari media Pinisi, Ikhsan diminta Presiden Joko Widodo agar produk-produk Indonesia dicintai dan harus terus digaungkan, terutama produk-produk UMKM.

Ikhsan yang menjabat Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia, meminta pemerintah untuk tidak sekedar menggaungkan jargon mencintai produk dalam negeri tanpa bukti dan komitmen kuat yang bersifat wajib dari pemerintah dan BUMN untuk menyerap produk mereka.

BACA JUGA :  Kemenkes Akan Tinjau Ulang Kehalalan Vaksin Covid-19

“Buka akses pasar dan beli produknya. Jangan hanya mengatakan cinta. Selama ini tender proyek pemerintah masih lebih banyak menyerap barang impor, khususnya dari China. Apalagi dengan adanya berbagai perjanjian dagang dan perkembangan marketing digital, UMKM semakin sulit berkembang,” kata Ikhsan.

Di KKSS, alumni PPSP IKIP Ujung Pandang angkatan 1987 ini, adalah Ketua Departemen Koperasi dan UMKM yang selalu berharap implementasi sejumlah kebijakan itu tegas dilakukan. Kapabilitas UMKM akan muncul dan berkembang ketika ada permintaan. “Kalau pemerintah tidak membantu memberi order, maka kapasitas dan kualitas tentu sulit ditingkatkan,” ujar Ikhsan menambahkan.

Selain itu, Ikhsan juga menyoroti sejumlah kebijakan yang masih kontradiktif dengan komitmen keberpihakan itu misalnya Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang bidang Usaha Penanaman Modal yang membuka akses investor besar untuk masuk ke usaha yang merupakan ranah usaha rumahan dan berskala kecil seperti industri kerupuk, keripik dan rempeyek.

BACA JUGA :  Jelang G20, Polda Metro Jaya Gelar Apel Persiapan Pengamanan

“Kebijakan ini kontradiktif dan tidak menunjukkan keberpihakan bahkan bisa menghancurkan bisnis UMKM yang tentu sulit bersaing dengan usaha besar.”

Di tengah pandemi Covid-19, membuat orang kembali menengok sektor usaha UMKM sebagai salah satu solusi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Demikian pula sewaktu kriris ekonomi melanda Indonesia pada 1997, UMKM mampu menjadi katup pengaman karena ketangguhan dan daya tahannya. Karena itu, menurut Ikhsan pelaku UMKM perlu diberdayakan dalam masa pemerintahan Joko Widodo.

“UMKM menyerap 95 persen tenaga kerja dan menyumbang sekitar 64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia,” tutur Ihksan.

Menurut pengusaha kuliner Sulawesi Selatan ini, pemberdayaan UMKM dapat dimulai dengan pembinaan dan pelatihan sumber daya manusia berbasis kompetensi, kemudian dilanjutkan dengan perluasan atau keberpihakan pasar bagi UMKM di setiap wilayah. Akan halnya dukungan pembiayaan, tidak semua UMKM dapat mangakses permodalan.

BACA JUGA :  Serunya Kunjungan Nanny Hadi Tjahjanto ke Booth UMKM BPN Banten

Di tengah rasa sakitnya yang sekian lama ia idap, Ikhsan optimis, pelaku UMKM Indonesia bisa bermain di pasar global, dengan meningkatkan mutu produk dan menyerap perkembangan teknologi sehingga produknya lebih efisien.

Selepas bekerja di Telkom Bakrie, Ikhsan menjajaki bisnis kuliner Makassar, salah satunya yang terkenal Konro Daeng Naba yang berlokasi di Jalan Ampera Jakarta Selatan.

Sepeninggal Ikhsan, tentu perjuangan UMKM makin berat di tengah disrupsi dan era metaverse.

Selamat jalan Pejuang UMKM Indonesia.

Sumber: Media Pinisi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *