Tifatul Sembiring Meminta Maaf Soal Pernyataan Seputar Polemik Edy Mulyadi

  • Bagikan

JAKARTA – Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring mengklarifikasi pernyataannya seputar polemik Edy Mulyadi dan Kalimantan yang disebut sebagai tempat ‘jin buang anak’.

Tifatul meminta maaf bila pernyataannya tersebut telah disalah pahami.

“Kalau pernyataan saya tersebut disalahpahami, saya mohon maaf yang setulus-tulusnya,” kata Tifatul dalam keterangan tertulisnya dikutip CNNIndonesia, Rabu (26/1).

Awalnya, Tifatul menjawab pertanyaan wartawan terkait sikap PKS yang menolak Rancangan Undang-undang (RUU) IKN disahkan menjadi UU.

Menjawab pernyataan wartawan itu, ia menjelaskan memindahan IKN terkesan terburu-buru ya.

Menurutnya, hal-hal pokok yang prioritas ditangani saat ini adalah mengatasi dampak pandemi Covid-19. Dia berkata, pemindahan IKN tidak mendesak dan bisa ditunda lebih dulu, mengingat biaya pemindahan IKN besar.

“Banyak masalah-masalah ekonomi, ada penyakit menular dan tidak menular yang sudah akut, PHK yang banyak terjadi dan seterusnya,” kata Tifatul.

Kemudian wartawan bertanya apakah sosok aktivis yang menyebut Kalimantan sebagai tempat jin buang anak, Edy Mulyadi, merupakan kader PKS.

BACA JUGA :  Baru Injak Rutan, Edy Mulyadi Dapat Bingkisan dari Habib Rizeq Shihab

Tifatul menjawab bahwa Edy memang pernah menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari PKS. Namun, menurutnya, Edy sudah tidak aktif sebagai kader atau pengurus di PKS saat ini.

Ia pun menyampaikan, Edy sudah meminta maaf dan menerangkan bahwa pernyataan tersebut tidak bermaksud menghina atau melecehkan masyarakat Kaltim. Tifatul kemudian mengaku meminta agar Edy dimaafkan.

“Edy Mulyadi, yang bersangkutan betul pernah jadi caleg PKS, akan tetapi beliau sekarang tidak aktif, sebagai kader dan bukan pengurus di struktur PKS. Maka semua pernyataan yang bersangkutan, adalah bersifat pernyataan pribadi, tidak bisa mewakili PKS,” ucap Tifatul.

“Tapi Edy kan sudah minta maaf, tidak ada maksud menghina atau melecehkan masyarakat Kaltim. Sebaiknya dimaafkan, ya sudahlah,” sambungnya

Lalu, Tifatul mengaku ditanya pandangannya terkait pernyataan Edy yang menyebut Kalimantan sebagai tempat jin buang anak.

Dia berkata, istilah tersebut sering digunakan oleh orang-orang Jakarta ya. Berdasarkan penjelasan sejumlah tokoh Betawi, menurutnya, kiasan kalimat ‘tempat jin buang anak’ artinya tempat sepi, seram ,dan jauh dari keramaian.

BACA JUGA :  Rakernas Partai NasDem, Daenk Jamal Sepakat Meneguhkan Politik Kebangsaan Demi Indonesia

Eks Menkominfo itu menyampaikan bahwa konotasi kalimat itu bukan untuk merendahkan atau menghina.

“Saya pun dulu, waktu mau pindah ke Depok dari Tanah Abang, teman-teman bilang, ‘Eh lu mau pindah ke tempat jin buang anak?’. Dulu Depok memang masih sepi,” katanya.

Setelah itu, Tifatul dimintai pandangan tentang ketersinggungan etnis yang terjadi belakangan ini.

Tiaftul menerangkan, jumlah penduduk Indonesia 276 juta jiwa yang terdiri dari 1.340 suku, lebih dari 800 bahasa, 17.508 pulau, serta berbagai macam adat dan budaya.

Kata dia, segenap elemen bangsa harus kerja sama dan berinteraksi satu sama lain untuk membangun Indonesia. Dia berkata, masyarakat jangan mudah salah paham dan tersinggung.

“Misalnya orang Medan kalau ingin meyakinkan orang lain, nada bicaranya agak tinggi. Itu bukan menghardik, tapi sekedar menekankan. Kalau dikit-dikit tersinggung, baper, kapan nikahnya kita,” kata Tifatul.

BACA JUGA :  Luhut Sebut Big Data 110 Juta, Aktivis Mahasiswa Sebut Itu Penyesatan Publik

“Sudahlah kita saling memahami dan saling memaafkan dalam hidup multietnis begini,” imbuhnya.

Lebih lanjut Tifatul menggarisbawahi, dalam wawancara itu dirinya tidak mengomentari masyarakat Kaltim sama sekali.

Dia menegaskan, titik tekan poin pernyataannya adalah menjelaskan, bahwa konotasi kalimat tempat jin buang anak bukan menghina, melainkan tempat sepi, seram, dan jauh.

“Lalu keluarlah judul berita, “Tifatul Bela Edy Mulyadi”, lalu dibumbui masyarakat jangan baper dan sebagainya. Ini sudah dipelintir dari poin pokok pernyataan asli saya. Lalu digoreng di medsos, hingga makin jauh pengertiannya,” ujar Tifatul.

Sebagai informasi, Forum Pemuda Lintas Agama Kalimantan Timur melaporkan Edy ke polisi karena pernyataannya diduga menghina Kalimantan. Kelompok tersebut mendatangi Polresta Samarinda, Minggu (23/1).

Namaun demikian, Edy sudah meminta maaf dan mengatakan terjadi perbedaan pemahaman maksud dari ungkapan tersebut.

“Saya mohon maaf telah menyebabkan teman-teman di Kalimantan tersinggung dan marah,” ujar Edy dalam keterangan resmi, Senin (24/1) lalu.

(ina)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *