Akibat Perang, Jokowi Kasih Sinyal Harga Semuanya Akan Naik

  • Bagikan
Akibat perang antara Rusia dan Ukraina, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut ketidakpastian soal ekonomi yang memicu kenaikan harga barang (Poto:Antara)

JAKARTA – Akibat perang antara Rusia dan Ukraina, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut ketidakpastian soal ekonomi yang memicu kenaikan harga barang.

Jokowi juga menyebut dunia sekarang ini banyak dihantui ketidakpastian, termasuk di bidang ekonomi.

Ia juga menyebut kelangkaan energi sudah menghantui dunia. Kelangkaan ia ramal akan semakin menjadi setelah terjadinya konflik atau peperangan di mana-mana.

“Yang kelangkaan energi sudah dulu sebelum perang harganya naik karena kelangkaan. Ditambah perang, harganya naik lagi. Sekarang harga per barrel sudah di atas US$100 yang sebelumnya hanya US$50-US$60. Semua negara yang namanya harga BBM naik semua, LPG naik semuanya. Hati-hati dengan ini, hati-hati dengan harga, kenaikan, karena semuanya naik (harganya),” katanya melalui keterangan yang diterima Selasa (1/3).

BACA JUGA :  BPS: Produksi Beras Indonesia Tahun Ini Meningkat Jadi 32,07 Juta Ton

Selain dipicu peperangan, Jokowi mengatakan potensi kenaikan harga barang juga terjadi akibat kelangkaan kontainer, krisis pangan yang melanda dunia usai pandemi covid melanda.

Kata dia kelangkaan yang sebelumnya tak pernah diperkirakan semua orang termasuk Jokowi itu, telah mengganggu perdagangan.

Akibat kelangkaan, harga pengiriman barang dengan kontainer naik. 

“Kalau harga kontainer naik, harga naik artinya apa? Harga barang juga akan ikut naik. Kalau harganya naik artinya apa? konsumen beli dengan harga lebih mahal dari biasanya. Itu baru urusan kontainer,” katanya.

Jokowi menambahkan akibat kelangkaan itu, harga pangan di dunia juga mulai naik.

“Beberapa negara sudah di atas 90 persen (naiknya), hati-hati dengan ini yang namanya urusan pangan,” katanya. 

BACA JUGA :  Rencana The Fed Naikkan Suku Bunga November Mendatang Bikin Rupiah Semakin Loyo

Jokowi mengatakan permasalahan itu harus diwaspadai. Pasalnya, kalau dibiarkan masalah tersebut bisa menimbulkan efek berantai.

“Pabrik mau produksi sesuatu dia beli bahan baku harganya naik, dia mau beli bahan baku harga naik, beli BBM harganya naik, artinya apa? ongkos produksi naik, terus harga di pabriknya menjadi jauh lebih tinggi, terus dikirim ke pasar berarti harga konsumennya juga nanti akan naik, ini efek berantainya seperti ini,” katanya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *