Dituduh Begal, Polisi Tangkap Guru Ngaji Kader HMI di Bekasi

  • Bagikan
Polisi juga dikabarkan melakukan kekerasan terhadap terduga (Ilustrasi)

BEKASI – Seorang guru ngaji di Tambelang, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Muhammad Fikry (20) dituduh melakukan begal oleh polisi hingga diseret ke meja hijau pengadilan. Saat ini sidang masih berjalan di Pengadilan Negeri Cikarang.

Penangkapan itu terjadi pada 28 Juli 2021 lalu. Dia dituduh melakukan begal yang terjadi di Jalan Sukaraja, Bekasi empat hari sebelumnya.
Diketahui Fikry anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Saat merilis hasil penangkapan pada 30 Juli 2021 lalu, Kapolsek Tambelang AKP Miken Fendriyati mengatakan Fikry dan tiga kawannya itu ditangkap di Jalan Raya Kali CBL Tambun Utara. Mereka disangka membegal warga dan membawa kabur motor korban bermodalkan senjata tajam.

“Modus begal ini pelaku memepet korbannya, melukai, dan mengambil paksa sepeda motor,” kata Miken saat itu.

Namun disisi lain, ayah Fikry, Rusin, menganggap janggal penangkapan itu.

Rusin menjelaskan bahwa anaknya sedang berada di musala dekat rumah dan tertidur di sana saat begal terjadi di tempat lain.

Dia sangat heran ketika anaknya tiba-tiba ditangkap personel Polsek Tambelang karena dituduh melakukan begal.

“Anak saya Fikry itu di musala, terekam CCTV dan ada 4 saksi,” kata Rusin waktu itu.

Teman Fikry, Agus, juga mengatakan hal serupa. Saat itu, Agus sedang bersama Fikry dan tahu betul apa yang dilakukan temannya pada malam 24 Juli 2021.

BACA JUGA :  Leher Ketua KONI Banyuasin Ditusuk Pakai Pecahan Botol Usai Tolak Ajakan Minum Miras

Fikri Tidur di Mushola

Agus yakin tuduhan yang dilayangkan kepada Fikry tidak benar. Agus melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Fikry tidur di musala saat pembegalan terjadi di Jalan Sukaraja.

“Enggak jelas, ngawur dah, orang si Fikry ada di sini di waktu jam 01.30 (melakukan) pembegalan itu. Sedangkan si Fikry jam 01.30 tidur,” kata Agus.

Teman Fikry yang lain, Muhammad Ramdani (19) juga menyebut Fikry tertidur di musala di malam itu. Bahkan dia pula yang membangunkan Fikry saat masuk waktu salat Subuh.

“Pas ke sini lagi subuh, saya bangunin Fikry buat salat berjamaah. Kalau misalkan yang keluar dari sini enggak ada, kan saya sampai pagi,” kata Dani.

Kejanggalan lain adalah sepeda motor milik ayah Fikry jadi salah satu barang bukti. Polisi menyebut motor itu digunakan Fikry saat aksi pembegalan.

Bagaimana mungkin Fikry menjadi pelaku begal, kata Rusin, sementara sepeda motor itu ada di rumah mereka sepanjang malam peristiwa pembegalan. Keberadaan sepeda motor itu pun terekam CCTV.

Tak lama setelah ditangkap pada 28 Juli 2021, Fikry diangkut ke Polsek Tambelang untuk diperiksa.

BACA JUGA :  Duka Guru Ngaji di Bekasi: Ditodong Pistol, Diborgol, Dilakban, Dipukuli Batu Bata

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, Fikry diduga jadi korban kekerasan oleh polisi dan dipaksa mengaku sebagai pelaku begal. Fikry lantas ditetapkan sebagai tersangka pembegalan, sebuah tindak pidana yang menurut banyak saksi tak pernah ia lakukan.

Kasus terus berjalan. Fikry bersama keluarganya sempat mengajukan praperadilan karena ada proses hukum janggal yang dilakukan Polsek Tambelang. Namun, majelis hakim Pengadilan Negeri Cikarang menolak permohonan Fikry.

Saat ini, Fikry masih menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Cikarang sebagai terdakwa kasus pembegalan. Dia ditahan di Lapas Cikarang selama persidangan berlangsung.

Selain Fikry ada tiga orang lain yang juga dituduh melakukan begal dan tengah disidang. Mereka adalah Muhammad Rizky (21), Abdul Rohman (20) dan Randi Apriyanto (19). Semua dijerat pasal 365 ayat (2) KUHP tentang pencurian yang disertai kekerasan.

Kapolsek Tembalang Enggan Mengklarifikasi

Sementara itu, Kapolsek Tambelang Miken enggan mengklarifikasi lebih lanjut soal kejanggalan kasus begal Bekasi. Dia menyerahkan persoalan tersebut ke pihak Polres Bekasi.

“Silakan ke humas polres, saya tidak ada hak bicara. Kemarin bagian humas sudah menghubungi saya dan sudah mengerti tentang hal tersebut,” kata Miken dikutip CNNIndonesia beberapa waktu lalu.

Sementara Kasubbag Humas Polres Metro Bekasi Kompol Yulianto saat diklarifikasi lebih lanjut menepis pernah berkomunikasi dengan Miken soal kasus begal Bekasi.

“Enggak lah. Yang kayak gitu kan enggak langsung. Kan yang tahu permasalahannya. Kalau saya enggak tahu permasalahannya,” kata Yulianto.

BACA JUGA :  Polres Tulang Bawang Tangkap Bandar Narkotika Asal Terbanggi Besar

Kapolres Metro Bekasi, Kombes Gidion Arif Setyawan pun enggan mengomentari dugaan kecacatan prosedur dalam penanganan kasus begal yang dilakukan Polsek Tambelang karena kasus sudah masuk persidangan.

Kanit Reskrim Polsek Tambelang, Haryono selaku aparat paling bertanggung jawab di lapangan atas kasus ini juga enggan bicara banyak. Dia membantah ada kecacatan prosedur dan kekerasan terhadap Fikry saat menangani kasus begal.

“Enggak ada, enggak ada,” kata Haryono saat ditemui di Polsek Tambelang.

Pihak keluarga sudah melapor ke Komnas HAM dan Komisi III DPR. Laporan juga diajukan ke Propam Polda Metro Jaya terkait kecacatan prosedur dalam proses hukum.

Terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Endra Zulpan mengklaim Propam dan Kompolnas tidak menemukan kejanggalan serta kekerasan dalam kasus ini.

“Propam Polda Metro Jaya telah melakukan pemeriksaan dan juga penyelidikan dengan hasil tidak ditemukan dugaan salah tangkap dan rekayasa tersebut,” kata Endra Zulpan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *