Ngeri! Konflik Rusia-Ukraina Berpotensi Perang Dunia III Pecah

  • Bagikan
Konflik Rusia - Ukraina berpotensi Perang Dunia III Pecah (poto:AFP)

BALI – Sejumlah pengamat internasional khawatir Perang Dunia III akan pecah. Hal ini setelah adanya konflik Rusia dan Ukraina yang tak kunjung reda.

Krisis itu bermula saat Rusia mengerahkan ratusan ribu pasukan dan peralatan tempur ke wilayah perbatasan. Amerika Serikat menuding mereka akan invasi, tapi Moskow membantah.

Hal itu membuat ancaman Perang Dunia III semakin nyata. Ini dipicu konflik antara Rusia dan Ukraina, yang menyeret Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Pada akhir Januari bulan lalu, dalam pernyataannya, Presiden AS Joe Biden mendeklarasikan persatuan total di antara kekuatan Barat untuk melawan Rusia menyerang Ukraina.

Pentagon bahkan menyiagakan 8.500 tentara untuk bergabung dengan NATO di Laut Hitam menghalau Rusia.Hal ini juga diamini Inggris. Dalam pernyataan pers berbeda, pemerintah Negeri Ratu Elizabeth itu juga menegaskan kesatuan Barat untuk menentang Moskow.

“Para pemimpin sepakat tentang pentingnya persatuan internasional dalam menghadapi meningkatnya permusuhan Rusia,” kata kantor Perdana Menteri Inggris Boris Johnson melasir CNBCIndonesia, Sabtu (19/2).

Persoalan Rusia dan Ukraina kompleks. Bukan hanya melibatkan klaim wilayah, dalam hal ini Krimea yang dicaplok Rusia tahun 2014, tapi juga hegemoni Rusia dan Barat.

BACA JUGA :  Pemerintah Rusia Pertimbangkan Bitcoin untuk Metode Pembayaran Ekspor Migas

Sejak revolusi terjadi di tahun yang sama, yang menyingkirkan pemimpim pro-Rusia di negara itu, Ukraina semakin dekat dengan Barat. Bahkan Ukraina berniat menjadi bagian NATO.

Rusia menentang ini terjadi. Dikhawatirkan akan ada pangkalan militer NATO di dekat Rusia.

Dalam pembicaraan damai Putin kerap meminta jaminan AS dan NATO terkait hal tersebut. Namun selalu deadlock, termasuk Jumat lalu.

Rusia sendiri diyakini sudah menempatkan 100.000 pasukan di dekat Ukraina. Rusia juga akan melakukan latihan militer dengan Belarusia, sekutunya, yang dianggap Barat banian dari rencana invasi.

Sementara itu AS dan NATO dikabarkan telah mengirimkan kapal perang ke Ukraina. Jet-jet tempur juga dilaporkan siap memperkuat NATO.

Sementara itu, mobilisasi alutsista baru-baru ini dilakukan Denmark, Spanyol dan Belanda. Bos NATO menyebut ini dilakukan guna melindungi anggota.

Pengamat Hubungan Internasional

Pasukan Rusia (poto:istimewa)

Melihat konflik itu, pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Riau, Fahmi Salsabila, menilai ada kemungkinan terjadi Perang Dunia III karena perbedaan kepentingan NATO- Amerika Serikat dan Moskow.

“Menurut saya bisa (PD III), karena persilangan kepentingan Rusia dan Blok Barat yakni NATO dan AS,” kata Fahmi melansir CNNIndonesia, Sabtu (19/2).

Rusia, menurutnya, punya kepentingan keamanan di Ukraina, karena negara ini berbatasan langsung dengan Moskow.

Pengerahan pasukan di perbatasan juga disebut sebagai upaya Rusia untuk menghambat langkah Ukraina bergabung dengan NATO.

Mereka cemas Ukraina bisa menjadi tempat NATO menembakkan rudal ke arah Moskow.

Sementara itu, Ukraina lebih cenderung pro ke Barat, meski ada sebagian wilayah yang ingin bergabung dengan Rusia.

“Barat dan AS tidak akan tinggal diam jika Ukraina diserang, sehingga menyeret negara-negara NATO dan AS ikut serta membantu Ukraina,” lanjut Fahmi.

Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris diketahui mengirim pasukan ke Ukraina untuk membantu memperkuat pertahanan Kiev saat rumor invasi gencar.

BACA JUGA :  Disela KTT G7, Jokowi Bahas Situasi Ukraina dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron

Pihak Rusia Klaim Telah Dibombardir Ukraina, PD 3 Dimulai?

Anggota Pusat Gabungan untuk Kontrol dan Koordinasi tentang gencatan senjata garis demarkasi, atau JCCC, mengamati lubang peluru artileri yang mendarat di dekat sebuah sekolah di Vrubivka di wilayah Luhansk, Ukraina timur, Kamis (17/2/2022). (AP Photo/Vadim Ghirda)

Sementara itu kabar terbaru menyebut bahwa, kelompok pro Rusia di Ukraina Timur menuding pemerintah Ukraina menyerang wilayah mereka dengan mortir, menandai pelanggaran perjanjian yang disepakati untuk mengakhiri konflik.

Kabar terkini, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Llyod Austin menyebut Rusia telah mengirimkan lebih banyak pasukan ke wilayah perbatasan Ukraina, dan tidak ada tanda-tanda penarikan pasukan seperti yang diumumkan.

Pernyataan tersebut dilontarkan tak lama setelah Ukraina mengaku masih ada pasukan Rusia yang berada di wilayah mereka. Adapun jumlah yang ditempatkan kabarnya hampir menembus 150 ribu pasukan.

Wakil dari pemberontak yang memproklamasikan diri sebagai Republik Rakyat Luhansk mengemukakan bahwa pasukan Ukraina menggunakan mortir, peluncur granat, dan senapan mesin, menurut laporan kantor berita RIA.

BACA JUGA :  PBB Kutuk Koalisi Arab Saudi Atas Serangan Mematikan di Yaman

“Pasukan bersenjata Ukraina dengan kasar telah melanggar gencatan senjata, menggunakan senjata berat yang menurut perjanjian Minsk harus ditarik,” kata wakil wilayah Luhansk, seperti dikutip CNBCIndonesia, Sabtu (19/2/2022).

Beberapa hari lalu, Rusia memang sempat mengumumkan penarikan tentaranya dari beberapa wilayah. Kementerian Pertahanan mengumumkan pasukan yang telah menyelesaikan latihan diminta untuk kembali ke pangkalan.

Kementerian itu juga membagikan video aktivitas pemindahan. Terlihat sejumlah tank dan kendaraan lapisan baja yang dimuat dalam gerbong kereta api.

Selain itu sejumlah perangkat keras akan dipindahkan dengan menggunakan truk. Para tentara akan berbaris menuju ke pangkalan.

Kantor berita Rusia, Interfax mengatakan untuk latihan skala besar di seluruh negara masih berlanjut. Namun beberapa unit di wilayah Selatan dan Barat yang telah menyelesaikan latihan akan mulai kembali ke pangkalan.




  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *