Budayawan: Lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat” Justru Ajak Introspeksi Diri

  • Bagikan

PURWAKARTA — Lirik lagu berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejat” yang ditulis Bupati Purwakarta menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial dan memicu perdebatan. Sejumlah pihak menilai liriknya kontroversial, namun kalangan budayawan menilai karya tersebut tidak bermaksud merendahkan perempuan, melainkan bentuk kritik diri yang dibalut humor khas Sunda.

Budayawan Purwakarta, Asep Sundu Mulyana, menjelaskan bahwa frasa dalam judul lagu tersebut menggambarkan sosok laki-laki yang merasa tinggi atau hebat, namun memiliki perilaku buruk. Menurutnya, lagu itu merupakan refleksi dan otokritik terhadap perilaku pribadi di masa lalu, bukan serangan terhadap kelompok tertentu.

“Lirik ini justru bentuk kejujuran dalam mengkritik diri sendiri, dengan pendekatan humor yang kuat dalam tradisi Sunda,” ujar Asep, Jumat (3/7/2026).

BACA JUGA :  Didatangi DLHK, Pemilik Rumah Jagal Anjing Akui Buang Darah dan Jeroan ke Sungai Bengawan Solo

Ia menambahkan, dalam budaya Sunda dikenal filosofi “teu boga musuh, musuhna ge diajak heureuy”, yang mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk menyampaikan kritik melalui candaan. Dalam konteks ini, humor menjadi medium refleksi yang efektif.

Asep memaparkan, terdapat beberapa unsur komedi yang menonjol dalam lagu tersebut. Pertama, penggunaan teknik self-ridicule atau menertawakan diri sendiri, yang lazim digunakan dalam dunia komedi sebagai cara menyampaikan kritik tanpa menyerang pihak lain.

Beberapa bagian lirik, menurutnya, menggunakan hiperbola ekstrem untuk menggambarkan kehancuran moral tokoh yang diceritakan. Pendekatan ini bersifat sarkastik, sekaligus menjadi pengingat akan konsekuensi dari perilaku negatif.

Kedua, gaya humor Sunda yang blak-blakan atau dikenal dengan istilah leces. Dalam tradisi lokal, humor semacam ini memiliki spektrum luas, mulai dari sindiran halus hingga ungkapan yang lugas dan vulgar, namun tetap dalam kerangka hiburan dan kritik sosial.

BACA JUGA :  GRIB Jaya Perkuat Solidaritas Lewat Rakornas, Siap Hadapi Tantangan Masa Depan

“Gaya ini juga dapat ditemukan dalam kesenian tradisional seperti sisindiran atau tokoh Cepot dalam wayang golek, yang kerap menyampaikan kritik melalui humor satir,” jelasnya.

Ketiga, adanya kontras antara judul lagu yang terkesan gagah dengan isi lirik yang justru konyol. Teknik ini dikenal sebagai subversion of expectation, yaitu membangun ekspektasi tinggi lalu menjatuhkannya untuk menciptakan efek humor.

Menurut Asep, perbedaan penafsiran terhadap lagu tersebut menjadi pemicu utama kontroversi di ruang publik. Ia menilai, komedi yang bersifat jujur dan sarkastik kerap disalahpahami ketika masuk ke ranah formal atau politik.

“Bagi yang memahami konteks budaya, ini adalah bentuk heureuy yang reflektif dan mendalam. Namun dalam ruang publik yang kaku, humor seperti ini sering dianggap tabu,” pungkasnya.

BACA JUGA :  PBB Kritik Aparat Indonesia: Penggunaan Kekuatan Harus Sesuai Prinsip HAM Internasional

Perdebatan yang muncul menunjukkan pentingnya pemahaman konteks budaya dalam menilai sebuah karya, terutama yang menggunakan pendekatan humor dan satire sebagai medium penyampaian pesan.*(AsBud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights