Siswa SMA di Ogan Ilir Aniaya Pacar Karena Video Mesum Tersebar

  • Bagikan
Foto: ilustrasi

SUMSEL – Karena kesal video mesum tersebar, seorang siswa SMA di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, PA (16) ditangkap polisi lantaran melakukan pencabulan dan kekerasan terhadap pacarnya, DH (15).

Peristiwa itu terjadi ketika korban mengendarai sepeda motor dan melintas di kampung pelaku di Kecamatan Rantau Panjang, Ogan Ilir, Senin (17/2/2022) lalu. Keduanya terlibat cekcok mulut perihal video mesum mereka menyebar luas.

Tak mampu menahan emosi, pelaku menampar kedua pipi dan mencekik leher ABG yang dipacarinya selama satu tahun itu. Kuatnya tamparan membuat korban terjatuh dan mengalami luka lecet di tangannya.

Penganiayaan itu dipergoki warga dan informasinya sampai ke telinga keluarga korban. Siswi SMP itu akhirnya mengakui beberapa kali melakukan persetubuhan dengan pelaku hingga direkam menggunakan ponsel.

BACA JUGA :  Juru Parkir di Klungkung Dibekuk Polisi Lantaran Jadi Kurir Narkoba

Tak terima, keluarga memutuskan melaporkan perkara ini ke polisi. Lantas pelaku diamankan petugas di rumahnya tanpa perlawanan.

Kasi Humas Polres Ogan Ilir Iptu Abdul Haris mengungkapkan, tersangka melakukan penganiayaan karena kesal video mesum bersama korban menyebar luas yang membuatnya malu. Dia bermaksud mengkonfirmasi, namun justru terlibat cekcok mulut dengan korban dan berakhir kekerasan.

“Tersangka emosi video mesumnya bocor dan begitu bertemu dengan korban ribut dan terjadilah penganiayaan,” ungkap Haris, Sabtu (5/3/2022).

Dari penuturan tersangka, semua perbuatan mesum itu mereka lakukan di salah satu SD di Kecamatan Rantau Panjang pada tahun lalu. Keduanya diketahui masih berstatus pelajar dan menjalin hubungan asmara setahun lebih.

BACA JUGA :  Teddy Minahasa Mulai Berkenalan dengan Linda di Tempat Spa Hotel Jakarta Pusat

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 81 ayat (2) tentang tindak pidana persetubuhan dan Pasal 80 ayat (1) tentang kekerasan terhadap anak di bawah umur yang diatur dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Ancaman pidananya separuh dari hukuman maksimal selama 15 tahun penjara karena tersangka berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH) atau anak di bawah umur.

“Walaupun masih di bawah umur, proses hukumnya tetap berlanjut, penyidik masih melakukan melengkapi berkas perkara,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *