Jadi Penyebab Longsor, Bangunan Liar di Gang Barjo Dibongkar Pemkot Bogor

  • Bagikan
Jadi Penyebab Longsor, Bangunan Liar di Gang Barjo Dibongkar Pemkot Bogor. (Foto/istimewa)

BOGOR- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, membongkar sebuah indekos di atas tebingan Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (25/10). Bangunan tersebut dituding jadi salah satu penyebab labilnya tanah, hingga akhirnya longsor beberapa waktu lalu.

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengungkapkan, sebelum dibongkar menggunakan alat berat, Pemkot Bogor telah menjalin komunikasi dengan pemilik indekos. Pasalnya, bangunan tersebut ternyata tidak dilengkapi dengan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

“Jadi Pemkot Bogor melakukan pembongkaran bangunan yang diduga jadi salah satu penyebab longsor di Gang Barjo. Kami sudah komunikasi dengan pemilik bangunan dan sudah diberi peringatan. Pemilik pun menerima untuk dibongkar,” kata Bima Arya.

Bima menjelaskan, pembongkaran ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Bogor dalam menata tebingan pasca longsor, sekaligus membuat saluran air dari Kali Cidepit menuju Sungai Cisadane, yang ada tepat di bawah bangunan tersebut.

BACA JUGA :  Diburu Manusia, Sejumlah Satwa Langka di Sulawesi Utara Terancam Punah

Bima menegaskan, Pemkot Bogor akan terus mengawasi pembangunan di kawasan tersebut agar tidak ada lagi bangunan-bangunan liar berdiri di kawasan tanah genting, untuk menghindari hal-hal tak diinginkan.

“Jadi Kali Cidepit itu akan dibuatkan saluran air menuju Sungai Cisadane, supaya tidak menggerogoti tanah di bawahnya yang semakin keropos. Pengawasan juga terus dilakukan agar tidak ada lagi pembangunan di kawasan ini,” tegas Bima.

Selain itu, Bima memastikan ada 60 Kepala Keluarga (KK) di Gang Barjo, akan direlokasi ke hunian sementara (huntara) untuk beberapa bulan ke depan. Sementara tiga rumah yang telah hancur tidak dibangun dulu untuk sementara.

“Kami komunikasikan untuk bisa dipindahkan dan kami terus berkoordinasi dengan ahli geologi untuk memetakan perencanaan seperti apa di sini. Memungkinkan atau tidak untuk dibangun rumah baru,” jelas Bima.

BACA JUGA :  Tingkatkan Ketertiban, Polrestabes Surabaya Lakukan Hipnoterapi pada Pelanggar Lalin

Ahli Geologi Pusat Kajian Geopark dan Kebencanaan Geologi Universitas Pakuan, Denny Sukamto Kadarisman mengungkapkan, hasil analisa sementara longsor disebabkan adanya pelapukan batuan dan terlalu banyaknya air dari Sungai Cidepit yang meresap ke tebingan.

Sehingga, tanah di lokasi tersebut menjadi labil, kemudian longsor pada Rabu (12/10) hingga menimbun 8 orang dan menewaskan 4 orang di antaranya.

“Dari sisi geologi, secara kasat mata ada lapisan tanah tebal luar biasa. Kami jarang-jarang menemukan tanah yang begitu tebal, khususnya di Bogor. Mungkin tadinya batuan, namun lama-lama menjadi lapuk karena terkena air, lalu menjadi tanah tebal,” ujar Denny Sukamto.

Menurut Denny, longsor yang terjadi di Gang Barjo itu, lebih disebabkan karena tanah yang roboh, bukan tanah yang menggelincir seperti pada umumnya ketika ada bencana tanah longsor.

BACA JUGA :  Bendungan Ciawi dan Sukamahi Diharapkan Bisa Kurangi Banjir Jakarta hingga 30,6 Persen

Hasil kajian Denny dan tim geolog dari Universitas Pakuan ini, akan digunakan Pemkot Bogor dalam menentukan langkah pascabencana, terutama di Gang Kepatihan dan Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah.

“Sementara disepakati akan dilakukan penanganan fisik. Teknis membangun terasering dari bawah dan membongkar sedikit bangunan di atas, jika pemilik setuju. Rekomendasinya, membuat saluran air yang lebih baik, terasering atau tembok penahan tanah. Kalau sudah aman, Gang Barjo aman. Perlu relokasi atau tidak Pemkot yang menentukan,” jelasnya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *