Harga Mobil Listrik Mahal, Pemkab Malang: APBD Terbatas

  • Bagikan
Ilustrasi mobil listrik. (Foto/istimewa)

MALANG- Keluarnya instruksi presiden (inpres) mengenai penggunaan mobil listrik untuk kendaraan dinas pemerintah pusat dan daerah direspons beragam oleh kepala daerah.

Beberapa kepala daerah di Malang Raya, Jawa Timur, mengaku masih belum mengetahui spesifikasi dan memiliki anggaran untuk belanja mobil listrik untuk kendaraan dinas.

Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto mengatakan, kendala utama saat ini berada di anggaran belanja unit mobil listrik yang cukup mahal. Makanya untuk APBD Pemkab Malang, pembelanjaan mobil listrik untuk kendaraan dinas dirasa sangat memberatkan.

“Kaitannya kemampuan anggaran, hampir semua daerah masih dengan APBD yang sangat terbatas. Itu semuanya masih belum sampai ke sana,” ucap Didik Gatot Subroto di Malang, Kamis (22/9/2022).

BACA JUGA :  OPD Jembrana Curhat ke Kejari Terkait Sejumlah Dinas Bekerja Kurang Maksimal

Namun Didik mengaku ada opsi kedua yang bisa dilakukan dengan cara menyewa kepada pihak ketiga. Perhitungan sewa inilah yang dirasa pihaknya lebih realistis dan tidak memberatkan APBD.

“Dengan sewa, bekerja sama dengan pihak ketiga itu sebenarnya lebih efisien, mungkin pemda yang mungkin sewa. Ditentukan dengan pihak ketiga seperti Kota Surabaya, sehingga tidak ada beban. Pemerintah daerah sudah bisa menentukan, mengatur dalam kurun waktu tertentu efisiensinya bisa diatur,” ungkap dia.

Keberatan yang sama juga disampaikan Wali Kota Malang Sutiaji yang mengaku menganggarkan mobil listrik untuk kendaraan dinas saat ini dirasa cukup memberatkan APBD Kota Malang.

“Sebenarnya kalau uangnya ada ya siap, tapi kan gak nutup dengan anggaran kita. Kalau ada yang murah, ya mau saja,” ungkap Sutiaji, secara terpisah.

BACA JUGA :  Pemanasan Global Dorong Peningkatan Ekspor Kendaraan Ramah Lingkungan Korea Selatan

Sutiaji mengaku sejauh ini telah memantau harga-harga mobil listrik di pasaran. Dari harga tersebut, mobil listrik termurah masih di harga Rp800 jutaan.

“Surabaya itu memungkinkan, kenapa? Karena APBD-nya sudah Rp11 triliun. Di kami maunya begitu, saya kemarin ngobrol-ngobrol kalau membikinkan di harga Rp500-600 jutaan itu kita mungkin akan beralih ke mobil listrik. Tapi kalau maunya Tesla yang computerize, Rp1,5 miliar itu yang biasa, yang autopilot, yang bagusan Rp2,2 miliar,” paparnya.

Namun ia tak menghalangi jika ada masyarakat Kota Malang yang menggunakan mobil listrik, jika memiliki kemampuan.

“Kalau mau monggo (silakan menggunakan mobil listrik) karena harganya yang tinggi, kedua masalah di charger,” pungkasnya.(*)

BACA JUGA :  Dukung Transisi Energi, Kendaraan Dinas Pusat dan Daerah Bakal Beralih ke Tenaga Listrik
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.